Pemerintah, Kerja Keras Rakyat, dan Energi Kita
|
“...Sesuatu yang menjadi kepentingan orang banyak diabaikan oleh manusia-manusia yang lebih mementingkan apa yang bisa menjadi miliknya sendiri daripada apa yang seharusnya dimiliki bersama orang lain.” (Aristoteles, Mankiw, Gregory N., “Principle of Microeconomics” 2nd Ed, Harcourt Publisher, 2001)
Seperti diumumkan oleh Pertamina akhir tahun 2008, jenis BBM yang naik adalah pertamax (dari Rp4.900 per liter menjadi Rp5.600 per liter), pertamax plus (dari Rp5.250 per liter menjadi Rp5.850 per liter), premium industri (dari Rp 4.650,6 menjadi Rp5.459,05 per liter), minyak tanah industri (dari Rp5.152,4 menjadi Rp5.370,2 ), minyak diesel (dari Rp4.772,9 menjadi Rp5.038 per liter), solar industri (Rp4.983 menjadi Rp5.126 per liter), solar transportasi (dari Rp5.209,5 menjadi Rp5.359 per liter), dan minyak bakar (Rp3.205,4 menjadi Rp3.221,9 per liter). Walau nilai kenaikan yang terjadi tampak tidak signifikan (kenaikan terbesar adalah pada premium industri sebesar 17,4%), industri-industri nasional yang sudah ringkih pastilah semakin terbebani saja. Gelombang PHK akan tetap menjadi ancaman. Begitu pula dengan harga-harga kebutuhan pokok dan TDL, yang akan ikut-ikutan naik. Kenaikan sekecil apapun akan mempengaruhi biaya produksi (cost of production) setiap industri. Terbukti industri makanan dan minuman sudah menyatakan akan menaikkan harga 5-15% (Bisnis Harian, 3 April, 2007). Ringkihnya industri kita, selain karena kenaikan harga BBM, juga disebabkan membengkaknya biaya produksi ’siluman’ (pungli, sogok-menyogok, uang keamanan, dan lain-lain). Sebagai illustrasi, dari hasil identifikasi perusahaan Jepang, bila biaya produksi manufaktur kita diberi indeks 100, maka Cina hanya sekitar 62, Filipina 77, Malaysia 79, dan Thailand 89. Struktur biaya produksi manufaktur kita juga sangat rentan dimana biaya siluman mencapai 33.37, dan biaya untuk material mencapai 58.26. Sebagai bandingannya: di Cina hanya 17.06 dan 39.89. Persoalan pokok industri kita bukanlah karena minimnya investasi asing yang (terlalu) sering didengung-dengungkan oleh para penganut ideologi neoliberalisme. Secara historis sebagian besar industri nasional, sejak pembukaan arus modal asing 1967, memang memiliki struktur yang dangkal, yang hanya dipaksa untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri, bukan kebutuhan pembangunan fondasi industri jangka panjang dalam negeri. Karena itu, kenaikan yang tidak signifikan atas harga BBM per 1 April 2007 ini tidak boleh dianggap remeh. Industri Nasional akan sekali lagi terkorbankan karenanya. Ini merupakan strategi cerdik pemerintah untuk mengelabui rakyat—menaikkan sedikit demi sedikit agar tak kentara. Haruslah diketahui bahwa pada hakikatnya subsidi BBM di tahun 2008 telah jauh-jauh hari ditargetkan akan berkurang separuhnya (dari Rp 61,8 trilyun di tahun 2007 menjadi Rp 35,2 trilyun di tahun 2008). Alasan naiknya harga jual minyak di pasar Singapura (MOPS) hanya dicari-cari saja. Lihat saja nanti bila harga minyak di Tags:
Set as favorite
Bookmark
Email This
Hits: 443 Trackback(0)
Comments (0)
![]() |
Related Articles
It's Just Me
Well, It's Me ! another guy that makes living on the internet since 2005 as graphic designer, web designer, web developer and off course with affiliatiates, PTC, PTP and others online opportunity to make some living. Currently i focused on Joomla Custom Work, design some templates, or just converting other css and xhtml free template to joomla and make a little or big modification on existing joomla extensions to suite my clients needs.
Place Your Ads Here For Just $15 a Month ! Click Here For Purchasing Our AdSpot
Category
Latest Comments
Most Popular Tags
Usefull Links
Popular Freebies
- Gurita-Cikeas.pdf (276)
- wid_blueview.zip (88)
- Dellistore Joomla Template (81)
- wp_orangewid.zip (74)
Latest Freebies Download
- Gurita-Cikeas.pdf (2009.12.30)
- wp_orangewid.zip (2009.09.05)
- wid_blueview.zip (2009.09.04)
- Dellistore Joomla Template (2009.08.28)
Pdf
Print
Email 
Pemerintah pernah menjanjikan bahwa 







